BUKAN SEKADAR PENTAS DRAMA: SISWA KELAS XI SMAN 1 KUDUS SIMULASIKAN PEMBERITAAN LAYAKNYA REPORTER TELEVISI

Suasana ruang kelas XI SMA Negeri 1 Kudus berubah menjadi studio berita mini pada Jumat (28/8/2026). Bukan sekadar bermain peran, ratusan siswa tengah menguji kemampuan jurnalistik mereka melalui simulasi pemberitaan berbasis drama sebagai bagian dari pembelajaran kokurikuler.

Kegiatan ini menuntut siswa untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Setiap kelompok ditugaskan mengangkat isu aktual yang terjadi di masyarakat maupun sekolah, lalu menyajikannya dalam format berita televisi yang dikemas secara teatrikal. Konsep ini dipilih untuk melatih empati reporter, kemampuan public speaking, serta pemahaman struktur berita 5W+1H dalam situasi yang dinamis.

Berbeda dengan pentas drama biasa, setiap kelompok menampilkan topik berita yang nyata dan relevan. Beberapa kelas menyoroti fenomena Generasi Z yang terjerat paylater dan pinjaman online (pinjol) demi gaya hidup. Dalam simulasinya, siswa berperan sebagai reporter yang mewawancarai “korban” pinjol dan ahli keuangan, menggambarkan tekanan sosial yang dihadapi remaja saat ini.

Isu sosial lainnya juga diangkat dengan tajam. Diangkat salah satu siswa kelas XI, memberitakan kasus penggelapan dana bantuan desa serta korupsi dana MBG (Makan Bergizi Gratis) yang memicu kemarahan warga. Ironisnya, siswa kelas XI mensimulasikan liputan tentang pemborosan makanan program MBG oleh siswa yang lebih memilih jajan di kantin setelah hanya mencicipi sedikit.

Di sisi positif, siswa lainnya juga melaporkan tren olahraga Padel dan budaya Gym yang sedang digemari Gen Z, serta keberhasilan seorang siswa meraih juara olimpiade matematika. Semangat nasionalisme juga hadir melalui simulasi liputan upacara HUT RI ke-81 di Alun-Alun Kudus dan event sepak bola Srikandi Cup.

Proses Latihan yang Intens dan Bermakna

Persiapan kegiatan ini tidaklah mudah. Setiap kelompok terdiri atas 8–9 siswa yang harus membagi peran sebagai reporter, narasumber, warga, hingga kru produksi. Mereka diberi waktu penampilan 5–8 menit, sehingga alur berita harus padat namun tetap informatif.

Khansa Durratul Najla, siswa kelas XIF-05, menggambarkan intensitas persiapan tersebut. “Prosesnya sangat menantang. Kami latihan hampir dua minggu bukan hanya menghafal dialog, tapi juga memahami karakter narasumber dan teknik wawancara agar terlihat natural seperti reporter sungguhan,” ujarnya.

Latihan selama dua minggu tersebut menjadi krusial. Siswa tidak hanya belajar akting, tetapi juga riset topik, verifikasi fakta, dan penyusunan naskah berita sebelum didramakan. Pembagian tugas dan koordinasi tim menjadi kunci agar simulasi berjalan mulus dan pesan berita tersampaikan dengan jelas.

Pembelajaran Kontekstual yang Efektif

Melalui metode ini, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang Holistik. Mereka mempraktikkan teori jurnalistik secara langsung, mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan keberanian tampil di depan umum. Batas waktu 5–8 menit juga melatih mereka untuk berpikir kritis dalam memilah informasi mana yang paling penting untuk disampaikan.

Pada akhirnya, kegiatan kokurikuler ini membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi agen perubahan dan penyampai informasi yang bertanggung jawab. Melalui panggung drama, mereka telah belajar bahwa jurnalistik bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga memahami konteks sosial dan humanis di balik setiap berita.

(Ey, Nn J&D)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *