Selasa, 1 September 2026, kegiatan kokurikuler siswa kelas X SMA Negeri 1 Kudus tidak hanya dilakukan di dalam kelas. Sebagai bagian dari pemenuhan tugas kokurikuler, para siswa melakukan observasi secara langsung di Pusat Oleh-Oleh Kirana dan Bioreaktor Pati, Kudus.
Siswa kelas X ini dibagi menjadi dua kelompok. Kelas XE-01 hingga XE-06 diarahkan untuk melakukan observasi di Pusat Oleh-Oleh Kirana, sedangkan kelas XE-07 hingga XE-12 diarahkan untuk melakukan observasi di Bioreaktor Pati.
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk memperoleh informasi melalui pengamatan langsung serta penjelasan dari staf Kirana dan Bioreaktor.
Dalam kegiatan observasi di Kirana, siswa diperkenalkan lebih jauh dengan aktivitas yang berlangsung di Pusat Oleh-Oleh Kirana. Para siswa menyimak pemaparan dari staf Kirana mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan produk yang dipasarkan, mulai dari proses produk dapat masuk ke Kirana hingga pertimbangan yang diperhatikan sebelum suatu produk dipasarkan.
Selama pemaparan berlangsung, siswa juga mencatat informasi yang dianggap penting untuk digunakan sebagai bahan penyusunan tugas. Tidak hanya mendengarkan penjelasan, kegiatan observasi turut mendorong siswa untuk memperhatikan kondisi di lapangan sehingga informasi yang diperoleh tidak hanya berasal dari teori.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam observasi adalah adanya pertimbangan tertentu terhadap produk yang dapat dipasarkan melalui Kirana. Produk perlu memiliki kualitas yang baik, mempunyai ciri khas, memiliki pasar atau konsumen, mempunyai nilai komersial, serta mampu mempertahankan kualitasnya secara konsisten.
“Kami sendiri akan memilih produk-produk berkualitas, karena kami menjaga kualitas produk untuk customer agar customer tidak merasa kecewa dengan kualitas produk di Kirana.”


Melalui pemaparan tersebut, staf Kirana menjelaskan tahapan dan berbagai pertimbangan yang perlu dipenuhi sebelum suatu produk dapat dipasarkan di Kirana.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada siswa bahwa kegiatan pemasaran sebuah produk tidak berhenti pada proses pembuatan. Ada berbagai pertimbangan yang perlu diperhatikan agar produk dapat diterima konsumen dan memiliki daya saing di pasaran.
Sementara itu, di sisi lain kelas XE-07 hingga XE-12 melakukan kegiatan observasi di Bioreaktor Pati. Berbeda dengan kelompok yang melakukan pengamatan di Pusat Oleh-Oleh Kirana, siswa yang berkunjung ke Bioreaktor Pati mengamati berbagai teknologi hasil karya masyarakat lokal yang mengatasi permasalahan tingkat global.
Kegiatan observasi dibuka dengan pemaparan singkat oleh dr. Luluk Zulfa Agustiena mengenai sejarah dan asal-usul BKS. Tak hanya itu, beliau juga menjelaskan tentang proses keberlangsungan teknologi BKS melalui miniatur yang telah disediakan.
Seperti yang dikatakan oleh Dr. M. Sobri S.Pt., M.P., “2 bulan lalu saya diundang oleh 3 kementerian. yaitu Kementerian Desa, Kesehatan, hingga Keuangan dengan satu faktor permasalahan yang sama. “ Dimana penanganan sampah dengan bioteknologi konvensional terus gagal di Indonesia”
Hal ini menjadi acuan peningkatan rasa optimisme pasangan suami istri yang kerap disapa pemilik BKS tersebut untuk menggalakkan produktivitas alat BKS. Tak hanya itu, dr. Luluk yang kerap disapa “Bu Luluk” sangat memperhatikan hasil kerja keras yang ia bangun selama 13 tahun lamanya bersama sang suami, Dr. M. Sobri, agar dapat diwariskan dan dikembangkan oleh generasi penerus bangsa.
Seluruh siswa kelas X fase E, khususnya XE-07 hingga XE-08, menjalankan observasi dengan pengamatan dan bimbingan langsung oleh kedua pihak tersebut. Mulai dari proses kerja alat, manfaat, hingga kekurangan alat dapat langsung dijelaskan oleh para ahli.


Melalui observasi ini, seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Kudus kelas XE-01 hingga XE-12 tidak hanya mendapatkan informasi mengenai aktivitas di Pusat Oleh-Oleh Kirana dan Bioreaktor Kapal Selam Pati, tetapi juga belajar cara melakukan pengamatan, menggali informasi, mencatat data, dan mengolahnya menjadi bahan tugas. Pengalaman belajar secara langsung di lapangan tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan kokurikuler menjadi lebih nyata dan bermakna bagi siswa.
(Ey, Nn J&D)







