Raih Juara 2 Lomba Peneliti Belia “ Putechnovation 2026”

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, dua siswi SMAN 1 Kudus memilih menoleh ke masa lalu untuk membawa sejarah menuju masa depan. Melalui riset bertema filologi digital, Qiara Annansha Raemaswary (XI F-03) dan Athaya Rizqi Ozora Putri (XI F-02) berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Peneliti Belia “PUtechnovation” 2026 bidang Penelitian Sejarah yang diselenggarakan oleh Politeknik Pekerjaan Umum (PU) bekerja sama dengan Center for Young Scientists (CYS) pada 20 s.d. 21 Mei 2026.

Kompetisi tersebut merupakan ajang tingkat provinsi yang mempertemukan berbagai tim pelajar dengan karya penelitian inovatif dari berbagai daerah. Melalui capaian tersebut, tim SMA Negeri 1 Kudus juga dinyatakan lolos dan akan melanjutkan kompetisi ke tingkat nasional yang direncanakan berlangsung pada Desember 2026 di Serpong.

Dalam ajang tersebut, Qiara dan Ozora membawa sebuah penelitian berjudul ARABICA-SCRIPT NEXUS: Platform Filologi Digital Berbasis Graph Intelligence untuk Memetakan Jejaring Intelektual Nusantara–Dunia Arab.”Penelitian tersebut mengangkat gagasan pengembangan platform digital berbasis Graph Intelligence, Natural Language Processing (NLP), dan analisis semantik untuk membantu memetakan hubungan intelektual dalam manuskrip kuno Nusantara dan dunia Arab.

Ide penelitian ini lahir dari keresahan sederhana: banyak manuskrip kuno nusantara yang sebenarnya menyimpan jejak hubungan intelektual besar, tetapi belum terdigitalisasi dan belum dapat dipelajari secara luas oleh generasi muda. Dari keresahan itu, keduanya mencoba menghadirkan pendekatan baru yang menggabungkan sejarah dan teknologi modern agar warisan intelektual nusantara dapat dipahami dengan lebih interaktif dan relevan di era digital.

Proses penelitian tidak berlangsung singkat. Selama kurang lebih dua bulan, mereka menjalani tahap pencarian literatur, analisis jurnal ilmiah, pengumpulan referensi sejarah, hingga penyusunan konsep visualisasi platform digital. Di tengah padatnya aktivitas sekolah, keduanya tetap berusaha menyelesaikan penelitian secara maksimal.

Pada hari pertama pelaksanaan lomba, Rabu, 20 Mei 2026, seluruh peserta melakukan registrasi ulang dan pemasangan poster penelitian sebelum memasuki tahap penyisihan berupa pameran poster ilmiah. Dalam sesi tersebut, para juri mendatangi setiap stand peserta untuk melakukan penilaian sekaligus berdiskusi langsung mengenai penelitian yang dipresentasikan. “Kami cukup gugup saat sesi poster karena harus menjelaskan penelitian secara langsung kepada juri dan peserta lain. Namun dari situ kami justru belajar banyak tentang cara mempertahankan ide dan menyampaikan penelitian dengan lebih baik,” ujar Athaya.

Setelah melewati tahap penyisihan, tim SMA Negeri 1 Kudus berhasil masuk ke babak final sebagai salah satu dari enam tim terbaik bidang Penelitian Sejarah. Pada tahap final yang dilaksanakan Kamis, 21 Mei 2026, para finalis mempresentasikan hasil penelitiannya secara langsung di hadapan dewan juri nasional.

Sebagai ketua tim, Qiara mengaku penelitian tersebut memiliki makna lebih dari sekadar perlombaan. “Saya merasa penelitian ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang bagaimana kami bisa membawa sejarah lebih dekat dengan generasi muda melalui teknologi. Kami ingin menunjukkan bahwa warisan intelektual nusantara masih sangat relevan untuk dikembangkan di era digital,” ujar Qiara.

Meskipun harus bersaing dengan berbagai tim dari sekolah unggulan di tingkat Provinsi Jawa Tengah, Qiara dan Ozora mampu menyampaikan presentasi dengan runtut, komunikatif, dan argumentatif. Penggabungan antara sejarah dan teknologi digital modern menjadi salah satu hal yang menarik perhatian dewan juri.

Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tim SMA Negeri 1 Kudus berhasil meraih Juara 2 PUtechnovation 2026 bidang Penelitian Sejarah, sekaligus mengamankan kesempatan untuk melaju ke tingkat nasional di Serpong pada akhir tahun mendatang.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa penelitian sejarah tidak harus selalu dipandang sebagai kajian masa lalu yang kaku. Melalui inovasi, keberanian mencoba, dan pemanfaatan teknologi digital, generasi muda dapat ikut menjaga serta menghidupkan kembali warisan intelektual Nusantara. Bagi Qiara dan Ozora, naskah kuno bukan sekadar arsip lama, melainkan jejak pengetahuan dan identitas bangsa yang perlu dipahami, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

(Ey, Qa J&D)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *