Kudus, 24 Mei 2026 – SMA Negeri 1 Kudus (SMASA) kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sekolah pencetak generasi berprestasi. Kabar membanggakan kali ini datang dari ajang kompetisi esai tingkat nasional, Naturaco 2026, di mana delegasi siswa dan guru dari SMASA sukses memborong rentetan medali emas, perak, hingga perunggu.
Naturaco merupakan kompetisi bergengsi berbasis esai yang berfokus pada bidang pendidikan/pembangunan, isu sosial, dan sains. Ajang tahun ini diselenggarakan di bawah naungan PT Riset Juara Abadi yang berkolaborasi dengan platform GYPEM dan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang selaku tuan rumah babak final.


Kerja keras kontingen SMASA membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Berikut adalah rincian torehan prestasi yang berhasil dibawa pulang:
- Tim Aquora (Medali Emas)
Anggota: Athaya Ozora Rizqi Putri (XI F-02) & Balqish Azula Agustina Army Sutono (XI F-03)
Guru Pembimbing: Puji Astuti, M.Pd. - Tim Danang (Medali Perak)
Anggota: Danang Sumirat (XE-05)
Guru Pembimbing: Triastuti Evawani, M.Pd. - Tim Thinkspire (Medali Perunggu)
Anggota: Almira Rahita Fathin (XI F-03) & Najwa Ummaya Nailinafizza (XI F-07)
Guru Pembimbing: Puji Astuti, M.Pd. - Tim Bravo (Medali Perunggu)
Anggota: Anggun Aulia Anggana (XE-08) & Shinta Hariyani (XE-08)
Guru Pembimbing: Farida, S.Pd. - Tim Shenoy (Medali Perunggu)
Anggota: Nora Hasna Tsani (XE-09) & Syifa Az-zahra Ramadhani (XE-08)
Guru Pembimbing: Norariska, S..Pd. - Kategori Guru: Puji Astuti (Medali Emas & Top 10 Terbaik)
Selain sukses membimbing siswa, Puji Astuti secara luar biasa meraih medali emas dan masuk dalam jajaran 10 peserta terbaik dari seluruh peserta ( 100 tim terbaik) sehingga mmperoleh apresiasi berupa uang pembinaan
Berdasarkan hasil wawancara tim jurnalis sekolah (J&D) bersama dua perwakilan peserta, Shinta Hariyani (Tim Bravo) dan Syifa Az-zahra Ramadhani (Tim Shenoy), kompetisi ini berjalan cukup panjang dan ketat.
Babak penyisihan dimulai secara daring sejak 1 April hingga 22 Mei 2026. Dari ratusan tim yang mendaftar, hanya 100 lebih peserta terbaik yang dinyatakan lolos untuk melanjutkan perjuangan di babak semifinal dan final secara luring (tatap muka) di kampus ITN Malang pada 23–24 Mei 2026.
“Kami baru membuat grup WhatsApp pada tanggal 28 April untuk mulai berkomunikasi mengenai Naturaco, dan di hari itu juga kami langsung mendaftar. Kemudian di rentang tanggal 29 April sampai 22 Mei, kami fokus memproses karya tulis mulai dari penyusunan, editing, hingga revisi,” ujar Shinta Hariyani.
Shinta juga menambahkan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada jajaran guru pendamping. “Apresiasi terbesar (big thanks) untuk Bu Puji dan Bu Farida selaku pembimbing yang senantiasa sabar mengoreksi dan mengarahkan jika ada bagian esai kami yang masih kurang tepat.”
Menulis karya ilmiah populer tentu bukan tanpa hambatan. Syifa Az-zahra Ramadhani mengungkapkan bahwa tantangan terbesar mereka terletak pada regulasi teknis penulisan, di mana setiap tim harus mampu memadatkan ide besar ke dalam ruang yang sangat terbatas.
“Kesulitan utama saat menyelesaikan esai adalah menyusun kalimat dengan batasan maksimal hanya 1000 kata. Sebisa mungkin isi esai harus padat dan kurang dari jumlah tersebut,” ungkap Syifa.
Beruntung, berkat bimbingan intensif dari para guru pendamping, kendala struktural tersebut dapat diatasi dengan baik. Terkait isi esai, Syifa menjelaskan bahwa modal utama argumen mereka bertumpu pada riset yang valid. Data-data yang mereka gunakan disadur dari berbagai jurnal ilmiah, artikel tepercaya, data Badan Pusat Statistik (BPS), serta pengembangan ide kreatif yang peka terhadap fenomena di lingkungan masyarakat sekitar.
Keberhasilan memborong medali di ITN Malang ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi siswa-siswi SMA Negeri 1 Kudus lainnya yang ingin terjun di bidang karya tulis ilmiah.
“Untuk teman-teman yang ingin mencoba, carilah topik yang tidak terlalu luas. Usahakan topiknya lebih spesifik agar hasilnya bisa langsung to the point serta memiliki arah dan tujuan yang jelas. Selain itu, jangan pernah pantang menyerah, tetap semangat, dan jangan lupa latihan presentasi agar tidak gugup saat menjelaskan ide di depan dewan juri.” ucap Danang Sumirat, salah satu peserta lomba
Bagi Puji Astuti, M.Pd. yang dalam tupoksinya sebagai koordinator pembimbing ekstrakurikuler KIR, selain membimbing dan merevisi karya esai 4 tim, juga ikut mendaftar sebagai peserta kategori guru ( umum). Berkat kegigihan dan kerja keras, akhirnya sebelum deadline beliau mampu dalam waktu singkat menyelesaikan karya esai dengan judul “Revitalisasi Deep Learning untuk Mencetak Siswa Peneliti” sehingga mammpu men yabet nominasi medali emas dan 10 terbaik.
Pencapaian seperti ini membuktikan bahwa edukasi keilmuan dan semangat pantang menyerah akan membuahkan hasil yang optimal apabila kita komitmen dan konsisten pada disiplin ilmu yang kita miliki.
(Ey, Ns J&D)








